Sling Exercise Redcord untuk Nyeri Punggung

Sling Exercise Redcord bisa dijadikan sebagai salah satu metode untuk rehabilitasi. Salah satu gangguan atas keluhan yang sering diatasi oleh Redcord adalah nyeri punggung yang sering terjadi di Indonesia sebesar 60%. Terdapat 2 macam nyeri punggung, yaitu nyeri punggung akut yang hanya terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 6 minggu dan nyeri punggung kronis yang hanya berjalan selama lebih dari 3 bulan.

Nyeri punggung tidak hanya menyerang sakit secara fisik pada punggung melainkan dapat menyerang anda secara mental. Seperti misalnya, depresi, kecemasan, mood swings, serta dapat memicu penyakit lainnya seperti darah tinggi dan kencing manis.

Cara penanganan:

Jika anda baru merasakan nyeri ini selama beberapa kali dan sudah pernah ditangani, maka rasa nyeri cenderung akan hilang. Tetapi, gangguan kontrol motorik akan tetap terganggu dan dapat menyebabkan terjadinya nyeri berulang yang akan datang lagi nantinya. Nyeri punggung berpotensi untuk terjadi selama bertahun-tahun yang dapat disebabkan oleh pola hidup yang kurang aktif, monoton, cara kerja yang terlalu melelahkan, kurang ergonomis dan trauma.

Menurut dr. Raymond Posuma, Sp.K, untuk menangani kondisi ini, diperlukan pemeriksaan fisik untuk mencari otot mana yang tidak bekerja dengan optimal. Selama otot yang disfungsi ini dibiarkan tidak bekerja, otot lain akan terus bekerja ekstra keras sebagai kompensasinya. Otot kompensator ini adalah proteksi tubuh kita terhadap kelemahan otot. Kelemahan otot itu sendiri dapat diperkuat dan diperbaiki dengan gerakan fungsional yang disediakan oleh Redcord di Bethsaida Hospitals. Sling Exercise Redcord dapat menangani nyeri punggung bagian bawah secara kronis yang terjadi berulang-ulang.

Metode Sling Exercise Redcord ini berasal dari Norwegia yang telah didukung oleh penelitian klinis dari berbagai negara. Dengan Sling Exercise Redcord, anda dapat menguatkan otot anda untuk koordinasi gerakan motorik yang lebih baik dan memperbaiki kontrol otot tanpa nyeri. Namun, semua hal ini dilakukan secara berkala untuk hasil yang lebih baik. Karena rehabilitasi Redcord di Bethsaida Hospitals ini mendukung pola gerak yang benar agar menghilangkan nyeri punggung.

Narasumber: dr. Raymond Posuma, Sp.KFR

Menjaga Kebersihan Paru-Paru Secara Alami

Menjaga kebersihan paru-paru secara alami merupakan hal yang sangat memungkinkan untuk anda lakukan. Dengan paru-paru yang bersih, secara otomatis anda akan memiliki kualitas pernapasan yang lebih baik. Menurut dr. Hesti Setiastuti S, Sp.P dari Bethsaida Hospital, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan paru-paru.

Cara menjaga kebersihan paru-paru:

  1. Tidak menjadi perokok aktif

Tidak merokok merupakan informasi yang sering anda dengar untuk menjaga kebersihan paru-paru. Tetapi, tidak merokok memang memerankan peran yang cukup dominan untuk menjaga kebersihan paru-paru. Pasalnya, terdapat zat-zat yang membahayakan paru-paru secara langsung. Jika anda sudah mulai berhenti merokok, maka organ pernapasan pasti akan terasa lebih ringan dan bebas dari lendir.

  •  Tidak menjadi perokok pasif

Bukan hanya menjadi perokok aktif saja yang akan membuat organ pernapasan anda menjadi lebih berat, tetapi menjadi perokok pasif juga meningkatkan risiko anda untuk terkena penyakit paru-paru karena asap yang dihirup oleh perokok pasif lebih banyak dibandingkan asap yang dihirup oleh perokok aktif. Anda bisa mencoba untuk tidak menghirup asap ketika ada seseorang yang merokok disekitar anda.

  • Kurangi konsumsi alkohol:

Mengonsumsi alkohol memiliki faktor terhadap kesehatan paru-paru. Sebotol alkohol yang anda konsumsi dapat menyebabkan sumbatan pada paru-paru yang akan menimbulkan gangguan pernapasan pada paru-paru yang menyebabkan terganggunya saluran pernapasan. Sebagai pengganti alkohol, anda dapat mengonsumsi jus buah untuk membantu membersihkan paru-paru anda secara alami.

  • Olahraga secara rutin:

Pada saat anda berolahraga, kinerja jantung akan meningkat sehingga jantung akan memberikan suplai oksigen ke dalam tubuh secara lebih optimal sehingga organ pernapasan juga bisa terasa lebih ringan. Anda bisa berolahraga selama 15-30 menit sebanyak 3x dalam seminggu untuk membuat organ pernapasan anda terasa lebih ringan dan bersih. Olahraga yang akan memicu jantung anda secara cepat adalah jogging, bermain sepeda dengan kecepatan sedang atau kecepatan yang cukup tinggi, zumba, dan lainnya.

Apabila anda merasa sistem pernapasan anda terganggu, anda bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis paru di Bethsaida Hospital untuk menemukan solusi terbaik bagi anda.

Narasumber: dr. Hesti Setiastuti S, Sp.P

Mengenal Prosedur Radio Frekuensi Ablasi Untuk Penanganan Penyakit Tiroid

Pernahkah anda mengalami kelelahan berlebihan sepanjang hari? Apakah disertai dengan berat badan yang meningkat secara tiba-tiba, sulit berkonsentrasi, badan menggigil, rambut rontok, melemahkan jantung dan otot? atau sebaliknya yang anda alami adalah kegugupan berlebihan, berat badan berkurang meski sudah mengonsumsi banyak makanan, jantung berdebar yang disertai denyut nadi yang cepat? Hal ini bisa terjadi karena gangguan fungsi hormon tiroid.

Meskipun bagi beberapa masyarakat umum penyakit tiroid ini terdengar asing, namun menurut data dari WHO Global Database on Iodine Deficiency (2004) sekitar 285.4 juta anak usia sekolah 6-12 tahun dan sekitar 1,9 milyar penduduk dunia mengalami defisiensi iodium. Di Asia, sekitar 187 juta anak usia sekolah (6-12 tahun) dan 1,2 milyar populasi umum mengalami defisiensi iodium. Lebih lanjut, kelenjar tiroid merupakan kelainan endokrin terbanyak kedua setelah diabetes melitus di Indonesia.

Di Indonesia sendiri telah terdapat 17 juta penduduk yang menderita gangguan tiroid. Gangguan tiroid dapat mengenai berbagai usia :

Bayi baru lahir – terakumulasi tiap tahunnya di Indonesia. Di seluruh dunia prevalensi hipotiroid kongenital 1 : 3.000. Dengan prevalensi 300-900 di daerah endemik tinggi. Jika angka kelahiran sebanyak 5 juta bayi/tahun dengan kejadian 1 : 3.000 kelahiran maka terdapat 1.600 bayi dengan hipotiroid kongenital per tahun yang akan terakumulasi tiap tahunnya.

Anak-anak: Angka prevalensi hipertiroid di seluruh dunia pada anak yang berusia ≤ 15 tahun adalah 8 : 1.000.000 dan yang berusia ≤ 4 tahun 1 : 1.000.000

Usia Dewasa atau Produktif: Wanita 10x lebih rentan terkena hipotiroid dibanding laki-laki. 7% dari wanita yang baru saja melahirkan mengalami masalah dengan kelenjar tiroid dalam tahun pertama.

Usia Lanjut: Nodul tiroid dapat terjadi pada lebih dari 50% populasi penduduk dan sebagian besar sudah berusia lanjut. Studi ATA menemukan populasi orang ≥ 70 tahun memiliki kemungkinan 43% terkena nodul dibandingkan dengan usia muda (20-29 tahun)

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang memiliki fungsi mempertahankan metabolisme tubuh, seperti metabolisme jantung, membantu mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, memacu pertumbuhan normal, memacu perkembangan dan pematangan sistem saraf dan memacu pembentukan kalori. Dengan kata lain, gangguan kelenjar tiroid dapat mempengaruhi seluruh sistem tubuh dan berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Masalah tiroid dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu, perubahan ukuran atau bentuk tiroid yang biasa dikenal dengan gondok dan gangguan fungsi hormon tiroid. Kedua masalah tersebut dibagi lagi menjadi dua, perubahan ukuran tiroid yang sering dikenal sebagai gondok dibagi menjadi dua yaitu benjolan jinak dan ganas. Sedangkan gangguan fungsi hormon dibagi menjadi hipertiroid (kelebihan hormon) dan hipotiroid (kekurangan hormon).

Beberapa tanda dan gejala gangguan fungsi hormon tiroid diantaranya:

Gejala Hipertiroid:
– Gemetar, gugup / gelisah
– Mata melotot
– Berat badan berkurang meski banyak makan
– Sulit tidur
– Cepat lelah
– Berdebar
– Tidak tahan panas
– Diare
– Tulisan tangan berubah
– Gangguan Menstruasi
– Otot lemah, tidak kuat olah raga, tidak bisa naik tangga
– Mata nyeri atau pandangan ganda
– Rasa cemas berlebihan
– Nadi cepat
– Kelenjar gondok membesar
– Kadar hormon T3 dan T4 meningkat

Gejala Hipotiroid:
– Mudah lelah
– Berat badan meningkat
– Pelupa
– Labil / sensitif
– Sulit berkonsentrasi
– Rambut rontok / menipis
– Kulit kering
– Tidak tahan dingin
– Kolesterol meningkat
– Mata sembab
– Kelenjar gondok membesar
– Suara dalam parau, tenggorokan kering dan sering meradang
– Denyut jantung melemah
– Infertilitas, siklus menstruasi tidak teratur
– Otot lemah
– Sembelit

Gangguan kelenjar tiroid ini kerap tidak disadari karena tak ada gejala khusus. Padahal, jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, kelainan tiroid dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Oleh karenanya, penting bagi masyarakat untuk melakukan deteksi dini serta mendapatkan penanganan yang tepat terhadap masalah tiroid.

Bethsaida Hospital yang telah memiliki layanan Thyroid Center kini siap untuk memberikan pelayanan terhadap penyakit tiroid ini. Mulai dari penegakan diagnosa, terapi khusus, hingga penanganan secara komprehensif. Kami mengetahui bahwa tidak sedikit diantara masyarakat yang menghindari rumah sakit untuk penanganan terhadap penyakit tiroid. Hal ini disebabkan oleh pemikiran masyarakat yang berasumsi bahwa jika sudah mengalami tiroid maka tindakan operasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi bersama Dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang mendalami sub spesialisasi endokrin dan penyakit metabolik dari Bethsaida Hospital mengatakan bahwa sekarang untuk menghilangkan pembesaran kelenjar tiroid jinak hanya memerlukan tindakan minimal invasif yang tanpa operasi. Tindakan ini disebut juga sebagai Radio Frequency Ablation dimana metode ini diguakan untuk menghilangkan kista pada tiroid.

Tindakan RFA ini akan melibatkan sebuah elektroda yang dimasukkan ke dalam leher dengan bantuan USG sampai mencapai tumor di dalam kelenjar tiroid, kemudian sebuah generator listrik akan dinyalakan untuk mengalirkan energi termal untuk merusak struktur tumor. Tentu prosedur ini akan menggunakan anastesi lokal sehingga pasien merasa aman & nyaman selama menjalani prosedur.

Pada umumnya prosedur RFA ini akan memakan waktu hanya 30 menit sampai 1 jam dengan kelebihan secara biaya lebih murah dan pasien tidak akan memiliki luka bekas sayatan operasi. Tindakan ini juga pada umumnya tidak menimbulkan rasa sakit baik saat dilakukan prosedur ataupun sesudahnya.Setelah menjalani prosedur RFA ini, dokter akan melakukan observasi selama 10-12 jam mendatang untuk melihat hasil reaksi dari prosedur RFA tersebut. Namun apabila terjadi risiko, dokter akan memberikan obat pereda nyeri. Selain itu, prosedur ini tidak memiliki banyak persyaratan namun biasanya pasien akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk memastikan keadaan tubuh pasien siap menjalani prosedur RFA ini.

Dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE mengatakan bahwa angka keberhasilan prosedur RFA ini adalah 47-96%. Berhasil atau tidaknya tindakan ini bisa dilihat 6 bulan setelah menjalani prosedur dengan kontrol rutin ke dokter setiap bulannya.

Calcium Score Cegah Penyakit Jantung Koroner

             

Ada berbagai macam penyakit jantung yang diderita oleh seseorang. Mulai dari penyakit jantung koroner, katup, bawaan, hipertensi, gagal jantung, irama jantung, dan lain-lainnya dengan setiap gejala dan tanda-tanda yang berbeda. Akan tetapi, tidak semua penderita penyakit jantung dapat merasakan gejala dan tanda-tanda terlebih dahulu. Sehingga pengecekan yang dilakukan secara rutin akan sangat bermanfaat bagi orang yang sudah memiliki risiko sebelumnya.

                Kali ini, salah satu penyakit jantung yang akan dibahas adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung yang menyerang sistem pembuluh darah koroner dimana sistem pembuluh darah yang memberi darah tidak bisa memberikan suplai energi dan oksigen ke otot jantung. Apabila suplai darah ke otot jantung ini terhambat atau terhalangi, maka akan ada sumbatan pada bagian pembuluh darah koroner sehingga darah yang memompa ke bagian jantung akan berkurang. Hal ini secara otomatis menyebabkan kinerja otot jantung juga menjadi berkurang.

Berbagai manfaat Calcium Score:

Untuk mengetahui kondisi pembuluh darah koroner bisa dilakukan metode Calcium Score di Cardiac Center Bethsaida Hospital yang merupakan bagian dari pemeriksaan CT-Scan yang memiliki kelebihan tertentu sehingga dapat digunakan untuk skrining. Calcium Score memiliki sederet manfaat, mulai dari pemeriksaan cepat dengan hasil yang cepat, tidak membuat pasien lelah, tidak perlu menggunakan infus, bisa dilakukan tanpa puasa, tidak invasif yang dalam arti tidak melukai pasien, serta memiliki tingkat radiasi yang minim.

Lantas, apa itu tes Calcium Score? Kata kalsium mewakilkan zat yang terlibat dalam proses terbentuknya sumbatan pada pembuluh darah koroner atau jantung. Semakin besar sumbatan pada jantung, maka semakin besar jumlah calcium score yang dicapai. Zat kalsium akan terlibat karena adanya proses terbentuknya sumbatan yang diawali dengan penimbunan lemak terlebih dahulu.

Berikut merupakan penjelasan dari angka calcium score:

  • 0: maka tidak ada penyumbatan pada bagian pembuluh darah koroner dan disarankan untuk tes ulang setelah 2 tahun ke depan.
  • 1-10, akan dikategorikan sebagai sumbatan yang sangat ringan dan disarankan untuk tes ulang setelah 1 tahun ke depan, disertai dengan dukungan obat.
  • 11-100, akan dikategorikan sebagai sumbatan ringan, tetapi apabila stress level nya juga memiliki angka yang tinggi dan didukung dengan faktor risiko, maka akan disarankan untuk melanjutkan kateterisasi.
  • 101-400, termasuk dalam kategori sedang.
  • 401 hingga keatas berada dalam kategori signifikan atau bermakna.

                Menurut Dr. Raja Adil C. Siregar, SpJP(K), FIHA, FICA, FESC, FACC, FAPSIC, FSCAI dari Bethsaida Hospital, pada beberapa kasusnya, skor yang diperoleh belum tentu menentukan seberapa parah sumbatan yang dialami. Akan lebih baik apabila anda juga melakukan tes lain yang dapat mendukung hasil pemeriksaan. Metode lainnya yang bisa digunakan adalah stress test atau kateterisasi yang dapat mendukung hasil tes.

Selain itu, faktor risiko juga bisa menjadi salah satu faktor dari hasil tes yang didapatkan. Faktor risiko yang terlibat adalah usia, jenis kelamin, faktor genetik, dan lingkungan dimana anda tinggal. Untuk faktor risiko yang bisa anda hindari adalah melalui pengendalian pola makan yang memicu kolesterol, trigliserida, asam urat, dan gula darah.

                Jika anda merasa memiliki keluhan atau ingin sekedar melakukan pengecekan untuk jantung anda, anda bisa langsung berkunjung ke Cardiac Center di Bethsaida Hospital Gading Serpong dimana anda bisa berkonsultasi dan melakukan pengecekan secara lengkap sesuai yang direkomendasikan oleh dokter anda. Anda juga bisa mendaftarkan diri anda pada promo penyakit jantung koroner yang tersedia.

Narasumber: Dr. Raja Adil C. Siregar, SpJP(K), FIHA, FICA, FESC, FACC, FAPSIC, FSCAI

Kegiatan Dokter Cilik dan Hospital Tour

Kegiatan Dokter Cilik dan Hospital Tour merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh Bethsaida Hospital sebagai salah satu kepeduliannya terhadap kesehatan setiap individu, terlebih lagi anak-anak. Dengan kegiatan yang diadakan, Bethsaida Hospital berharap anak-anak tidak memiliki persepsi yang menakutkan terhadap rumah sakit.

Untuk mewujudkan hal tersebut, hal pertama yang akan dilakukan adalah mengikuti kegiatan Hospital Tour untuk memberikan gambaran pada anak-anak terhadap fasilitas dan aktivitas yang berada di dalam Bethsaida Hospital. Dimulai dari Dental Center, Hyperbaric Centre, Radiology Centre, dan pengenalan Ambulan sebagai destinasi terakhir Hospital Tour.

Seusai Hospital Tour, kegiatan Dokter Cilik dan Hospital Tour dimulai dengan mengedukasi anak-anak agar membangkitkan semangat mereka untuk memiliki gaya hidup sehat dan bersih yang bisa diterapkan setiap hari. Hal ini tentunya dilakukan dengan cara yang mudah, seperti mencuci tangan yang benar, menggosok gigi dengan benar, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kesehatan. Tak hanya itu, anak-anak dapat menjadi dokter cilik sungguhan dengan meracik obat mainan, cara menggunakan stetoskop, dan termometer yang diajarkan secara langsung oleh salah satu tenaga kerja profesional Bethsaida Hospital. 

Kegiatan Dokter Cilik dan Hospital Tour akan terus diadakan secara berkelanjutan oleh Bethsaida Hospital di Gading Serpong untuk menumbuhkan anak-anak yang sadar akan pentingnya menjaga kebersihan demi mencapai kehidupan yang lebih sehat.

Radio Frequency Ablation Menangani Tiroid

Pernahkah anda mengalami kelelahan berlebihan sepanjang hari? Apakah disertai dengan berat badan yang meningkat secara tiba-tiba, sulit berkonsentrasi, badan menggigil, rambut rontok, melemahkan jantung dan otot? atau sebaliknya yang anda alami adalah kegugupan berlebihan, berat badan berkurang meski sudah mengonsumsi banyak makanan, jantung berdebar yang disertai denyut nadi yang cepat? Hal ini bisa terjadi karena gangguan fungsi hormon tiroid. Ada beberapa cara untuk menangani tiroid, namun salah satunya adalah dengan radio frequency ablation.

Meskipun bagi beberapa masyarakat umum penyakit tiroid ini terdengar asing, namun menurut data dari WHO Global Database on Iodine Deficiency (2004) sekitar 285.4 juta anak usia sekolah 6-12 tahun dan sekitar 1,9 milyar penduduk dunia mengalami defisiensi iodium. Di Asia, sekitar 187 juta anak usia sekolah (6-12 tahun) dan 1,2 milyar populasi umum mengalami defisiensi iodium. Lebih lanjut, kelenjar tiroid merupakan kelainan endokrin terbanyak kedua setelah diabetes melitus di Indonesia.

Berbagai usia dengan gangguan tiroid:

Bayi baru lahir – terakumulasi tiap tahunnya di Indonesia. Di seluruh dunia prevalensi hipotiroid kongenital 1 : 3.000. Dengan prevalensi 300-900 di daerah endemik tinggi. Jika angka kelahiran sebanyak 5 juta bayi/tahun dengan kejadian 1 : 3.000 kelahiran maka terdapat 1.600 bayi dengan hipotiroid kongenital per tahun yang akan terakumulasi tiap tahunnya.

Anak-anak: Angka prevalensi hipertiroid di seluruh dunia pada anak yang berusia ≤ 15 tahun adalah 8 : 1.000.000 dan yang berusia ≤ 4 tahun 1 : 1.000.000

Usia Dewasa atau Produktif: Wanita 10x lebih rentan terkena hipotiroid dibanding laki-laki. 7% dari wanita yang baru saja melahirkan mengalami masalah dengan kelenjar tiroid dalam tahun pertama.

Usia Lanjut: Nodul tiroid dapat terjadi pada lebih dari 50% populasi penduduk dan sebagian besar sudah berusia lanjut. Studi ATA menemukan populasi orang ≥ 70 tahun memiliki kemungkinan 43% terkena nodul dibandingkan dengan usia muda (20-29 tahun)

Fungsi kelenjar tiroid:

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang memiliki fungsi mempertahankan metabolisme tubuh, seperti metabolisme jantung, membantu mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, memacu pertumbuhan normal, memacu perkembangan dan pematangan sistem saraf dan memacu pembentukan kalori. Dengan kata lain, gangguan kelenjar tiroid dapat mempengaruhi seluruh sistem tubuh dan berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Masalah tiroid dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu, perubahan ukuran atau bentuk tiroid yang biasa dikenal dengan gondok dan gangguan fungsi hormon tiroid. Kedua masalah tersebut dibagi lagi menjadi dua, perubahan ukuran tiroid yang sering dikenal sebagai gondok dibagi menjadi dua yaitu benjolan jinak dan ganas. Sedangkan gangguan fungsi hormon dibagi menjadi hipertiroid (kelebihan hormon) dan hipotiroid (kekurangan hormon).

Gejala Hipertiroid:


– Gemetar, gugup / gelisah
– Mata melotot
– Berat badan berkurang meski banyak makan
– Sulit tidur
– Cepat lelah
– Berdebar
– Tidak tahan panas
– Diare
– Tulisan tangan berubah
– Gangguan Menstruasi
– Otot lemah, tidak kuat olah raga, tidak bisa naik tangga
– Mata nyeri atau pandangan ganda
– Rasa cemas berlebihan
– Nadi cepat
– Kelenjar gondok membesar
– Kadar hormon T3 dan T4 meningkat

Gejala Hipotiroid:


– Mudah lelah
– Berat badan meningkat
– Pelupa
– Labil / sensitif
– Sulit berkonsentrasi
– Rambut rontok / menipis
– Kulit kering
– Tidak tahan dingin
– Kolesterol meningkat
– Mata sembab
– Kelenjar gondok membesar
– Suara dalam parau, tenggorokan kering dan sering meradang
– Denyut jantung melemah
– Infertilitas, siklus menstruasi tidak teratur
– Otot lemah
– Sembelit

Gangguan kelenjar tiroid ini kerap tidak disadari karena tak ada gejala khusus. Padahal, jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, kelainan tiroid dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Oleh karenanya, penting bagi masyarakat untuk melakukan deteksi dini serta mendapatkan penanganan yang tepat terhadap masalah tiroid.

Thyroid Center

Bethsaida Hospital yang telah memiliki layanan Thyroid Center kini siap untuk memberikan pelayanan terhadap penyakit tiroid ini. Mulai dari penegakan diagnosa, terapi khusus, hingga penanganan secara komprehensif. Kami mengetahui bahwa tidak sedikit diantara masyarakat yang menghindari rumah sakit untuk penanganan terhadap penyakit tiroid. Hal ini disebabkan oleh pemikiran masyarakat yang berasumsi bahwa jika sudah mengalami tiroid maka tindakan operasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari.

Akan tetapi bersama Dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang mendalami sub spesialisasi endokrin dan penyakit metabolik dari Bethsaida Hospital mengatakan bahwa sekarang untuk menghilangkan pembesaran kelenjar tiroid jinak hanya memerlukan tindakan minimal invasif yang tanpa operasi. Tindakan ini disebut juga sebagai Radio Frequency Ablation dimana metode ini diguakan untuk menghilangkan kista pada tiroid.

Prosedur Tindakan RFA

Tindakan RFA ini akan melibatkan sebuah elektroda yang dimasukkan ke dalam leher dengan bantuan USG sampai mencapai tumor di dalam kelenjar tiroid, kemudian sebuah generator listrik akan dinyalakan untuk mengalirkan energi termal untuk merusak struktur tumor. Tentu prosedur ini akan menggunakan anastesi lokal sehingga pasien merasa aman & nyaman selama menjalani prosedur.

Pada umumnya prosedur Radio Frequency Ablation ini akan memakan waktu hanya 30 menit sampai 1 jam dengan kelebihan secara biaya lebih murah dan pasien tidak akan memiliki luka bekas sayatan operasi. Tindakan ini juga pada umumnya tidak menimbulkan rasa sakit baik saat dilakukan prosedur ataupun sesudahnya.Setelah menjalani prosedur RFA ini, dokter akan melakukan observasi selama 10-12 jam mendatang untuk melihat hasil reaksi dari prosedur RFA tersebut.

Namun apabila terjadi risiko, dokter akan memberikan obat pereda nyeri. Selain itu, prosedur ini tidak memiliki banyak persyaratan namun biasanya pasien akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk memastikan keadaan tubuh pasien siap menjalani prosedur RFA ini.

Dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE mengatakan bahwa angka keberhasilan prosedur RFA ini adalah 47-96%. Berhasil atau tidaknya tindakan ini bisa dilihat 6 bulan setelah menjalani prosedur dengan kontrol rutin ke dokter setiap bulannya.

Deteksi Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang disebabkan oleh penumpukan lemak yang terdapat pada dinding pembuluh darah koroner atau pembuluh darah yang biasanya memiliki fungsi untuk memberi makan otot jantung. Menurut dr. Dasaad Mulijono, MBBS(Hons), FIHA, FIMSANZ, FRACGP, FRACP, PhD, terdapat berbagai cara untuk deteksi penyakit jantung koroner.

Contoh alat penunjang pemeriksaan:

  • EKG: Elektrokardiogram atau yang biasa disingkat dengan EKG merupakan tes untuk merekam aktivitas listrik jantung. Anda akan menggunakan mesin pendeteksi impuls listrik yang nantinya akan menerjemahkan impuls listrik menjadi sebuah grafik.
  • Treadmill: ditujukan untuk mengetahui seberapa baik jantung anda dapat merespon ketika anda sedang melakukan aktivitas berat. Aktivitas berat yang biasanya dilakukan adalah olahraga untuk memicu detak jantung anda sehingga dokter dapat memantau detak tersebut.
  • Multislice computed tomography (MSCT): merupakan tes kadar kalsium yang berada disekitar pembuluh darah jantung koroner. Jika skor semakin tinggi, maka akan semakin rentan untuk mengalami penyumbatan.
  • Pemeriksaan gold standard atau kateterisasi jantung: gold standard merupakan teknik yang telah diakui secara internasional sebagai salah satu teknik yang paling akurat untuk mendeteksi adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner.

Anda bisa melakukan deteksi penyakit jantung koroner di Cardiac Center Bethsaida Hospital menggunakan metode yang disarankan oleh dokter anda masing-masing. Prosedur pengecekan pastinya akan dilakukan oleh dokter spesialis jantung pada bidang intervensi.

Kateterisasi Jantung

Jika setelah melakukan salah satu metode pemeriksaan diatas dan anda dicurigai memiliki sumbatan pada jantung, maka dokter akan menyarankan untuk melakukan kateterisasi jantung. Alat yang akan digunakan disebut sebagai mesin angiografi. Akan ada selang kecil yang dimasukkan melalui pembuluh darah pada tangan atau pada bagian paha, lalu akan diberikan zat kontras untuk pengambilan gambar yang menyerupai X-ray.

Durasi tindakan ini hanya membutuhkan waktu 10-15 menit dengan hasil yang cepat. Anda dapat mengetahui keadaan pembuluh darah koroner pada saat itu juga beserta dengan letaknya, derajatnya, dan seberapa banyak sumbatan yang ada. Setelah kateterisasi dilakukan maka dokter dapat memutuskan apakah anda membutuhkan tindakan pemasangan cincin, balonisasi, atau stent. Jika hasil yang anda dapatkan masih bisa diatasi tanpa adanya tindakan, maka dokter tidak akan menyarankan tindakan tersebut.

Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung yang berada di Cardiac Center Bethsaida Hospital dan mendaftarkan diri anda pada promo yang terkait dengan penyakit jantung koroner.

Narasumber: dr. Dasaad Mulijono, MBBS(Hons), FIHA, FIMSANZ, FRACGP, FRACP, PhD

Bahaya Yang Ditimbulkan Oleh Gangguan Tidur Sleep Apnea

Apa Itu Gangguan Tidur Sleep Apnea?

Apakah anda pernah mendengar gangguan tidur Sleep Apnea? Ini merupakan salah satu kondisi gangguan tidur yang serius akibat dari kondisi pernapasan yang terganggu. Beberapa indikasi dari Sleep Apnea ini adalah mendengur atau ngorok yang disebabkan oleh penyempitan rongga saluran pernapasan, napas yang terengah-engah, tersedak serta berhenti napas dalam waktu yang melebihi 10 detik. Hal ini dapat berulang dalam satu waktu sehingga menyebabkan penurunan level atau kadar oksigen di dalam tubuh. Dengan demikian jantung akan terpicu untuk bekerja lebih keras.

Tingkatan Gangguan Tidur Sleep Apnea

Berdasarkan tingkat keseriusan gangguan Sleep Apnea ini dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu ringan, sedang dan berat. Tingkatan ini dapat berubah dengan cepat sesuai dengan kondisi pasien seperti berat badan gemuk, riwayat penyakit (hipertensi, riwayat penyakit jantung, paska stroke). Tingkatan dari gangguan ini juga dapat berkembang dengan cepat, jadi apabila anda memiliki Sleep Apnea yang masih dikategorikan ringan namun tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat maka ada kemungkinan saat anda melakukan pemeriksaan di tahun depan kategori Sleep Apnea anda dapat berubah menjadi berat. Sleep Apnea ini pun dapat menyebabkan masalah pada aktivitas rutin seperti saat berkendara, bekerja, bersekolah.

Gejala & Tanda-Tanda Sleep Apnea

Gejala yang dapat dialami oleh seseorang yang berisiko untuk terkena Sleep Apnea ini adalah

  • Merasa masih lelah saat bangun pagi meski jumlah waktu tidur sudah cukup (5-8 jam)
  • Merasa masih membutuhkan waktu untuk tidur disaat bangun pagi meski waktu tidur sudah cukup (5-8jam)
  • Ketiduran saat menyetir atau berkendara walau tidak lama(microsleep)
  • Cepat mengantuk saat berkendara atau menyetir walau hanya sebentar

Sleep Apnea ini dapat dialami oleh siapa saja. Hal ini bisa terjadi pada usia mulai dari anak-anak hingga dewasa & lansia, perempuan ataupun laki-laki. Tetapi Adapun beberapa kondisi yang meningkatkan risiko seseorang untuk terkena Sleep Apnea seperti:

  • Orang gemuk yang memiliki Body Mass Index (BMI) lebih dari 25
  • Lingkar leher yang lebih dari 40cm
  • Riwayat hipertensi, penyakit jantung, stroke, diabetes
  • Penyakit kronis lain seperti pasien dengan penyakit ginjal yang sudah melakukan cuci darah, pasien dengan gastritis kronis atau maag kronis yang lebih dari 1 tahun

Bagaimana Cara Mengatasi Sleep Apnea?

Lalu bagaimana cara mengetahui dengan tepat bahwa anda memang memiliki gangguan tidur Sleep Apnea? Tentu hal ini memerlukan pemeriksaan kesehatan yang tepat seperti Sleep Test. Sleep test adalah sebuah alat untuk melakukan diagnosa yang dipasang pada pasien saat mau tidur dan dilepaskan kembali saat pasien bangun tidur. Alat ini dapat melakukan pemeriksaan dan analisa apabila pasien sudah tertidur selama minimal 4 jam.Alat sleep test ini tidak akan mengganggu kualitas tidur karena anda tetap dapat bergerak secara bebas seperti tidur berbaring ke sisi kiri atau kanan ataupun ke kamar mandi atau WC karena alat ini bersifat portable atau bisa dibawa kemana-mana.

Narasumber: dr. Radite Nusasenjaya, MKK, Sp.OK

Ibadah Puasa Untuk Penderita Diabetes

Persiapan Yang Perlu Dilakukan Sebelum Melakukan Ibadah Puasa

Bagi penderita diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasa, tentu ada beberapa hal yang patut dijadikan perhatian agar dapat berjalan dengan lancar:

  • Persiapan diri dengan baik
  • Melakukan konsultasi mengenai jadwal makan & minum obat
  • Ikutilah saran dari Tim Diabetes (dokter, ahli gizi, perawat, edukator diabetes)
  • Tetaplah berkomunikasi dengan tim Diabetes anda

Pemantauan Kadar Gula Darah Saat Menjalankan Ibadah Puasa

Pemeriksaan gula darah sebaiknya dilakukan pada saat:

  • Saat sebelum tidur
  • Sebelum sahur
  • Dua jam sesudah sahur
  • Dua jam sesudah berbuka
  • Selain jadwal diatas, pemeriksaan gula darah sebaiknya dilakukan saat mengalami hipoglikemia
  • Jika tidak punya alat periksa gula maka ketahuilah gejala hiperglikemia & hipoglikemia

Komplikasi Yang Dapat Terjadi di Saat Ramadhan

Perlu diketahui bahwa ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi saat sedang menjalani ibadah puasa di saat Ramadhan

  • Hipoglikemi
  • Dehidrasi
  • Hiperglikemi
  • Ketoasidosis Diabetica
  • Trombosis ( Kekentalan Darah Meningkat)

Gejala Hipoglikemia & Hiperglikemia

Penting untuk diketahui oleh penderita diabetes mengenai apa saja tanda-tanda yang dapat dialami saat gula darah rendah (Hipoglikemia) & gula darah tinggi (Hiperglikemia)

       Gejala Hipoglikemia:
  • Mudah lapar
  • Sulit konsentrasi
  • Pusing
  • Gemetar
  • Keringat dingin
  • Jantung berdebar
  • Lelah
  • Mudah marah
  • Pucat
  • Kesemutan
       Gejala Hiperglikemia:
  • Penurunan berat badan
  • Sering merasa haus
  • Mulut terasa kering
  • Sering buang air kecil
  • Kulit gatal & kering
  • Mudah lelah
  • Penglihatan buram
  • Sakit kepala
  • Kesemutan
  • Susah konsentrasi

Mengingat komplikasi yang dapat terjadi, orang yang mengalami hipoglikemi selama 3 bulan terakhir, penderita hipoglikemi yang melakukan penyuntikan insulin, diabetesi yang sedang hamil, diabetesti yang tidak terkendali (Hiperglikemi), diabetesi dengan komplikasi akut/kerusakan organ berat (Gangguan ginjal berat dan cuci darah) & penderita diabetes tipe 1 tidak disarankan untuk melakukan puasa.

Sedangkan bagi penderita yang memiliki Diabetes tipe 2 namun gula darahnya terkendali dengan baik (HbA1C <7%) gd <180 mg/dl, sudah mengetahui perencanaan makan yang baik, telah mempelajari bagaimana penggunaan obat dengan dosis yang tepat dapat untuk menjalankan ibadah puasa.

Rekomendasi Perubahan Gaya Hidup Selama Puasa Saat Ramadhan

  1. Pertimbangkan memodifikasi waktu & intensitas aktivitas jasmani
  2. Pastikan asupan cairan yang cukup & Berikan 1000 mg waktu buka & 500 mg waktu sahur
  3. Pemakaian sulfonilurea 2X sehari – 1 Dosis saat buka & 1/2 dosis saat sahur
  4. Metaformin – 2/3 dosis saat buka & 1/3 dosis saat sahur
  5. DPP-4, TZDs, AGIs tidak perlu diubah
  6. Petimbangan perubahan insulin jangka pendek atau cepat menjadi insulin kerja menengah atau kerja panjang sesuai dengan dosis yang dianjutkan oleh dokter anda
  7. Sulfornilurea 1X/hari dapat diberikan sebelum berbuka puasa, sesuaikan dosis berdasarkan hasil pemeriksaan glikemi dan risiko hipoglikemi
  8. Konsulkan pemakaian dosis obat diabetes dengan dokter anda

 

Narasumber: dr. H. Latif Choibar Caropeboka, Sp.PD, KEMD, FINASIM

Sudahkah Anda Mengenal Gejala Demam Tifoid Pada Orang Dewasa

Mengenali Gejala Demam Tifoid & Informasi Seputarnya Untuk Kualitas Hidup Yang Lebih Baik

Sebelum mengenal Gejala Demam tifoid/tifus (typhoid fever) sebaiknya kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya Demam Tifoid itu. Pada dasarnya Demam Tifoid ini adalah penyakit infeksi yang menyeluruh di seluruh tubuh (sistemik) akibat bakteri Salmonella Enterica Serovar Typhi (S. Thyphi).

Bakteri ini menginfeksi sekitar 21 juta orang setahun dan menyebabkan kematian hingga 200.000 orang di seluruh dunia. Data di daerah urban di Asia Tenggara menunjukkan demam kasus demam tifoid 100-200 per 100.000 penduduk. Demam Tifoid merupakan penyakit endemis di Indonesia, artinya dapat ditemukan sepanjang tahun. Kasus demam tifoid di Indonesia lebih banyak ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.

Setiap demam tifoid selalu terjadi manifestasi demam tetapi tidak semua demam harus didiagnosis tifus. Deteksi dan diagnosis demam tifoid relatif tidak mudah karena manifestasi klinis awal tidak khas dan menyerupai berbagai penyakit. Pemeriksaan laboratorium kadang tidak sensitif sehingga sering mengalami bias untuk mendeteksi demam tifoid.

Penyebab Demam Tifoid

Bakteri S. Thyphi yang disebarkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh air seni atau tinja orang yang terinfeksi. Biasanya dari kerang, udang air tawar, buah-buahan, sayuran mentah, susu dan produk susu yang terkontaminasi. Selain itu, lalat berperan sebagai penyebar bakteri ke makanan dan minuman.

Gejala Demam Tifoid

Demam tinggi kelelahan, sakit perut, sakit kepala, penurunan nafsu makan dan perdarahan saluran cerna.

Komplikasi Yang Bisa Dialami

BAB berdarah/hitam (perdarahan usus), timbul lubang pada usus sehingga memerlukan operasi (perforasi usus), peradangan otot jantung (miokarditis), peradangan hati (hepatitis), peradangan dinding dalam ruang jantung dan katup (endokarditis), pneumonia, peradangan pankreas (pankreatitis), infeksi ginjal atau kandung kemih, infeksi pada otak dan selaput otak (meningoensefalitis) dan kematian dalam waktu satu bulan onset. Komplikasi lain yang pernah dilaporkan adalah halusinasi dan psikosis paranoid (komplikasi neuropsikiatri).

Pemeriksaan Kesehatan yang Tepat

Demam tifoid didiagnosis melalui riwayat penyakit demam yang lebih tinggi pada sore hari dan menetap. Riwayat perjalanan ke negara endemis mendukung diagnosis demam tifoid. Pemeriksaan darah yang paling dianjurkan adalah pembiakan cairan tubuh (kultur), untuk mengetahui kuman penyebab demam dan antibiotik yang peka serta kebal (resisten). Namun, pemeriksaan ini memerlukan waktu cukup lama (5-7 hari), fasilitas yang memadai dan biaya yang cukup tinggi. Karena biayanya yang terjangkau, dinegara berkembang, masih banyak menggunakan tes widal, walaupun hasilnya kurang spesifik dan akurat. Serta pemeriksaan penunjang lainnya adalah IgM Salmonella dan Tubex yang diperiksakan sesuai indikasinya.

Pengobatan

Pengobatan demam tifoid terdiri dari tirah baring, nutrisi, cairan, antibiotika dan pencegahan komplikasi. Pemberian antibiotik sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menekan kematian. Pada tahun 1990 mulai timbul bakteri
S. Thyphi yang kebal berbagai antibiotik Multidrug Resistent (MDR). Berbagai faktor penyebab MDR adalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat indikasi (over-used) dan tidak sesuai aturan (tidak dihabiskan).

Pencegahan

Upaya pencegahan demam tifoid yang dicanangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terdiri dari program vaksinasi tifoid pada wisatawan yang berkunjung ke negara endemis, pelatihan petugas medis untuk diagnosis dan pengobatan serta peningkatan kualitas air dan sanitasi. Langkah-langkah yang wajib dilakukan masyarakat adalah membudayakan cuci tangan, meningkatkan kebersihan makanan dan minuman, menutup tempat pembuangan sampah dan memperhatikan sumber air bersih.

Vaksinasi dianjurkan untuk mencegah demam tifoid bagi semua kelompok usia. Dua jenis vaksin tifoid yaitu ViCPS ( Vi capsular polysaccharide, jenis vaksin yang inaktif) dan vaksin oral (vaksin hidup yang dilemahkan). Kelompok risiko tinggi seperti lansia, wanita hamil dan imunokompromais (daya tahan tubuh rendah) dianjurkan untuk vaksinasi tifoid yang inaktif bila tidak ada kontraindikasi. Vaksin inaktif direkomendasikan bagi subjek sehat berusia lebih dari 2 tahun dan diberikan secara injeksi via otot (intramuskular). Vaksinasi inaktif memerlukan booster setiap 2 tahun bagi subjek berisiko. Semua vaksinasi tifoid memberikan proteksi 50-80%.

Pada setiap individu yang mengalami demam lebih dari 3 hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan sesuai indikasi. Penderita demam tifoid direkomendasikan mengonsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter (hingga tuntas), untuk mencegah komplikasi dan timbulnya bakteri multiresisten (MDR).

 

Narasumber:  Dr. Yunita Maslim, Sp.PD