Gaya Hidup Bisa Berdampak pada Ginjal, Kapan Harus Mulai Waspada?
Penyakit ginjal bukan hanya masalah yang terjadi pada usia lanjut. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan penyakit ginjal kronis sudah ditemukan pada kelompok usia produktif, yaitu usia 15–24 tahun sebesar 0,02%, 25–34 tahun sebesar 0,07%, dan 35–44 tahun sebesar 0,11%.
Data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan juga mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis sepanjang 2024.
Kerusakan ginjal dapat berlangsung secara perlahan dan pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang khas.
Apa yang Menyebabkan Ginjal Rusak?
Diabetes dan hipertensi merupakan dua penyebab penting penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal, sedangkan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di ginjal.
Selain diabetes dan hipertensi, beberapa faktor gaya hidup juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal, seperti:
- Pola makan tinggi garam — dapat meningkatkan tekanan darah yang berdampak pada kesehatan ginjal.
- Kurang aktivitas fisik — dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik.
- Merokok — dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah ginjal.
- Berat badan tidak terkontrol — berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kronis.
- Penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan — dapat berisiko memengaruhi fungsi ginjal.
Penyakit ginjal juga dapat disebabkan oleh batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.
Apa Tanda Ginjal Mulai Bermasalah?
Penyakit ginjal dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Namun, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Perubahan frekuensi atau jumlah urine
- Urine berbusa secara menetap
- Pembengkakan pada kaki
- Mudah lelah
- Mual
- Penurunan nafsu makan
- Tekanan darah yang sulit dikontrol
Jika mengalami beberapa tanda tersebut, terutama secara menetap atau disertai faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi, sebaiknya lakukan pemeriksaan fungsi ginjal.
Seberapa Penting Mengecek Fungsi Ginjal?
Pemeriksaan fungsi ginjal penting dilakukan untuk mengetahui kondisi ginjal sejak dini, terutama karena penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Pemeriksaan dapat membantu mendeteksi penurunan fungsi ginjal sebelum kerusakan menjadi lebih berat serta menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Fungsi ginjal dapat dievaluasi melalui pemeriksaan darah untuk melihat kadar kreatinin dan memperkirakan eGFR, serta pemeriksaan urine untuk mendeteksi albumin atau protein. Tekanan darah dan gula darah juga perlu diperiksa karena hipertensi dan diabetes merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronis.
Penyakit ginjal tidak otomatis berarti harus menjalani cuci darah. Namun, apabila fungsi ginjal sudah sangat menurun dan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara memadai, terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis dapat diperlukan.
Layanan Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital
Sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan kesehatan yang berkesinambungan, Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan Urology & Nephrology Clinic sebagai layanan terpadu untuk menangani berbagai gangguan ginjal, saluran kemih, dan prostat.
Layanan ini mencakup deteksi dini, penegakan diagnosis, terapi medis, tindakan minimal invasif, hingga hemodialisis sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Jika memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, riwayat keluarga penyakit ginjal, atau mengalami perubahan pada urine, segera konsultasikan kondisi Anda untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat.
Booking Konsultasi Sekarang