Gaya Hidup Serba Instan, Pankreas Ikut Terancam? Dari Skrining hingga Penanganan
Vina Bethsaida Hospital Cari Dokter Emergency 1-500-990

Gaya Hidup Serba Instan, Pankreas Ikut Terancam? Dari Skrining hingga Penanganan

Pemeriksaan dan penanganan gangguan pankreas di Bethsaida Hospital Gading Serpong

Makanan cepat saji semakin dekat dengan keseharian masyarakat. Makanan tinggi lemak, gula, garam, dan kalori kerap dipilih karena praktis dan mudah ditemukan. Namun, bila berlangsung terus-menerus, pola ini dapat memicu obesitas, diabetes, trigliserida tinggi, dan batu empedu yang dapat mempengaruhi kesehatan pankreas.

Mengkonsumsi makanan dengan kalori dan lemak yang tinggi, kurangnya bergerak, berat badan yang meningkat, kadar gula yang tidak terkontrol hingga konsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat membentuk faktor risiko gangguan pankreas. Dalam jangka panjang, beberapa kondisi tersebut turut berkaitan dengan peningkatan risiko kanker pankreas.

Pankreas memiliki peran penting dalam menghasilkan enzim untuk membantu proses pencernaan serta hormon seperti insulin yang mengatur kadar gula darah. Menurut dr. Duddy Mulyawan Djajadisastra, Sp.PD, KGEH, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroentero dan Hepatologi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, ketika fungsi pankreas terganggu, dampaknya dapat dirasakan pada sistem pencernaan sekaligus metabolisme tubuh.

“Yang perlu dipahami, bukan satu jenis makanan yang langsung merusak pankreas. Masalah biasanya terbentuk dari pola hidup yang berlangsung lama, misalnya berat badan berlebih, gula darah tidak terkontrol, trigliserida tinggi, hingga terbentuknya batu empedu,” jelas dr. Duddy.

Seiring menurunnya fungsi pankreas, tubuh dapat mulai menunjukkan sejumlah keluhan yang perlu diperhatikan, seperti:

Keluhan tersebut tidak selalu menandakan gangguan pankreas. Namun, bila muncul berulang atau menetap, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Dari Pemeriksaan hingga Deteksi Kanker Pankreas

Evaluasi pankreas dapat dimulai melalui konsultasi dan pemeriksaan laboratorium, kemudian dilanjutkan sesuai indikasi dengan USG abdomen, CT scan, MRI/MRCP, hingga Endoscopic Ultrasound (EUS). Bila ditemukan kelainan yang mencurigakan, pemeriksaan jaringan dapat diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Skrining kanker pankreas sendiri tidak dilakukan secara rutin kepada semua orang sehat. Pemeriksaan dan pemantauan lebih diarahkan kepada pasien dengan gejala atau faktor risiko tertentu, seperti riwayat pankreatitis, kista pankreas, riwayat keluarga kanker pankreas, maupun faktor genetik.

Jika ditemukan kanker pankreas, pilihan terapi ditentukan berdasarkan lokasi dan ukuran tumor, keterlibatan pembuluh darah, penyebaran penyakit, serta kondisi pasien. Penanganannya dapat berupa operasi, kemoterapi, maupun kombinasi terapi sesuai hasil evaluasi.

Operasi Whipple untuk Tumor Pankreas

Pada tumor di bagian kepala pankreas yang masih memungkinkan untuk diangkat, salah satu pilihan penanganan adalah operasi Whipple (pancreaticoduodenectomy). Whipple merupakan operasi besar dan kompleks, namun pada pasien terpilih dapat dilakukan dengan pendekatan laparoskopi, yaitu teknik minimal invasif melalui beberapa sayatan kecil dengan bantuan kamera dan instrumen khusus.

Menurut dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD, dalam prosedur Whipple, kepala pankreas diangkat bersama bagian awal usus halus (duodenum atau usus dua belas jari), kantong empedu, sebagian saluran empedu, serta jaringan di sekitarnya. Setelah itu, saluran pencernaan direkonstruksi agar proses pencernaan tetap dapat berlangsung.

“Whipple tetap merupakan operasi yang kompleks meskipun dilakukan dengan pendekatan laparoskopi. Karena itu, pemilihan pasien harus dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan lokasi dan karakteristik tumor, keterlibatan pembuluh darah, penyebaran penyakit, serta kondisi pasien secara keseluruhan,” jelas dr. Eko.

Digestive Center Bethsaida Hospital Gading Serpong

Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan Digestive Center untuk memberikan penanganan gangguan saluran cerna secara komprehensif, mulai dari konsultasi dan diagnosis hingga tindakan endoskopi serta bedah digestif. Layanannya mencakup penanganan batu empedu, tumor saluran pencernaan, kanker kolorektal, hingga berbagai tindakan bedah laparoskopi, termasuk penanganan kasus kompleks sesuai indikasi medis.

Didukung fasilitas seperti Endoskopi, CT Scan 512 Slice with AI, laboratorium dan radiologi 24 jam, serta kamar operasi, sehingga proses pemeriksaan, penegakan diagnosis, hingga tindakan dapat dilakukan secara terintegrasi sesuai kebutuhan pasien.

“Melalui Digestive Center, kami ingin memberikan layanan yang lebih terintegrasi bagi pasien dengan gangguan saluran cerna, termasuk kasus pankreas. Dukungan dokter dari berbagai disiplin serta fasilitas diagnostik dan bedah modern memungkinkan pasien mendapatkan pendampingan mulai dari deteksi, penegakan diagnosis, penentuan terapi, hingga tindakan dan pemulihan dalam satu rangkaian layanan,” ujar dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Waspadai gangguan pankreas sejak dini

Jika mengalami keluhan yang menetap atau memiliki faktor risiko gangguan pankreas, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Booking Konsultasi Sekarang