Pemeriksaan Endoskopi: Melihat Langsung ke Dalam Saluran Cerna; Lebih Akurat, Lebih Awal Tertangani
Banyak gangguan pencernaan memiliki gejala yang mirip, seperti nyeri ulu hati, mual, kembung, atau rasa tidak nyaman setelah makan.
Namun di balik gejala yang tampak sederhana tersebut, dapat tersembunyi berbagai kondisi yang sangat berbeda, mulai dari gastritis ringan, tukak lambung, polip, hingga tumor pada saluran cerna.
Untuk membedakan semua kondisi tersebut secara pasti, dokter membutuhkan lebih dari sekadar mendengar keluhan pasien. Mereka perlu melihat langsung kondisi organ saluran cerna dari dalam.
Di sinilah endoskopi memainkan peran penting sebagai prosedur yang memungkinkan dokter mengevaluasi saluran cerna secara langsung, akurat, dan real-time.
Apa Itu Endoskopi?
Endoskopi adalah prosedur medis yang menggunakan alat berbentuk tabung tipis dan fleksibel yang dilengkapi kamera serta sumber cahaya pada ujungnya, yang disebut endoskop.
Alat ini dimasukkan ke dalam tubuh melalui mulut atau anus untuk memeriksa kondisi organ saluran cerna secara langsung dari dalam.
Berbeda dengan pemeriksaan pencitraan seperti USG atau rontgen yang hanya memberikan gambaran dari luar, endoskopi memungkinkan dokter melihat warna, tekstur, serta kondisi permukaan organ secara nyata.
Melalui prosedur ini, dokter dapat mendeteksi peradangan, luka, perdarahan, polip, maupun pertumbuhan jaringan abnormal yang mungkin tidak terlihat melalui pemeriksaan lain.
Selain sebagai alat diagnosis, endoskopi juga dapat digunakan sebagai tindakan terapi, seperti mengangkat polip atau menghentikan perdarahan dalam satu prosedur yang sama.
— dr. Rolan Sitompul, Sp.PD-KGEH, FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi
Bethsaida Hospital Serang
Jenis-Jenis Endoskopi Saluran Cerna
1. Endoskopi Saluran Cerna Atas (Esofagogastroduodenoskopi)
Pemeriksaan ini dilakukan melalui mulut untuk mengevaluasi kerongkongan (esofagus), lambung, dan bagian awal usus halus (duodenum).
Endoskopi saluran cerna atas sering digunakan untuk menilai keluhan seperti nyeri ulu hati kronis, kesulitan menelan, muntah darah, tukak lambung, hingga mendeteksi infeksi Helicobacter pylori melalui pemeriksaan biopsi jaringan.
2. Kolonoskopi
Kolonoskopi dilakukan melalui anus untuk memeriksa seluruh usus besar (kolon) hingga bagian akhir usus halus.
Pemeriksaan ini merupakan metode utama dalam mendeteksi polip usus, kanker kolorektal stadium dini, penyakit radang usus, serta sumber perdarahan saluran cerna bagian bawah.
3. Endoskopi dengan Tindakan Terapi
Pada banyak kasus, endoskopi tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi saluran cerna, tetapi juga sekaligus melakukan tindakan medis.
Polip dapat langsung diangkat melalui polipektomi, perdarahan dapat dihentikan menggunakan teknik khusus, dan sampel jaringan dapat diambil melalui biopsi tanpa memerlukan operasi terbuka.
Kondisi yang Dapat Dideteksi Melalui Endoskopi
- Gastritis dan tukak lambung atau duodenum yang menyebabkan peradangan atau luka pada saluran cerna.
- Infeksi Helicobacter pylori yang berhubungan dengan tukak lambung dan peningkatan risiko kanker lambung.
- GERD dan esofagitis akibat refluks asam lambung yang berlangsung berulang.
- Polip saluran cerna yang sebagian dapat berkembang menjadi kanker bila tidak ditangani.
- Kanker saluran cerna termasuk kanker lambung dan kanker kolorektal stadium dini.
- Penyakit radang usus seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.
- Perdarahan saluran cerna yang belum diketahui sumbernya.
- Varises esofagus yang sering ditemukan pada pasien dengan penyakit hati kronis.
Bagaimana Prosedur Endoskopi Dilakukan?
Banyak orang merasa khawatir ketika mendengar kata endoskopi karena membayangkan prosedur yang menyakitkan atau menakutkan.
Faktanya, teknologi endoskopi modern dirancang agar prosedur berlangsung senyaman mungkin.
Sebelum tindakan, pasien biasanya diminta berpuasa selama beberapa jam agar saluran cerna dalam kondisi kosong dan hasil pemeriksaan lebih optimal.
Pada kolonoskopi, pasien juga perlu menjalani persiapan tambahan berupa konsumsi obat pencahar untuk membersihkan usus besar.
Selama prosedur, pasien umumnya diberikan sedasi ringan sehingga merasa lebih rileks dan nyaman. Endoskop kemudian dimasukkan secara perlahan, sementara gambar dari dalam saluran cerna ditampilkan secara langsung pada monitor.
Prosedur biasanya berlangsung sekitar 15 hingga 30 menit tergantung jenis pemeriksaan dan kompleksitas kasus.
Setelah tindakan selesai, pasien akan beristirahat hingga efek sedasi berkurang dan dapat pulang pada hari yang sama sesuai anjuran dokter.
— dr. Rolan Sitompul, Sp.PD-KGEH, FINASIM
Siapa yang Perlu Menjalani Endoskopi?
- Mengalami nyeri ulu hati atau gangguan pencernaan yang menetap dan tidak membaik dengan pengobatan biasa.
- Kesulitan atau nyeri saat menelan.
- Muntah darah atau BAB berwarna hitam seperti aspal yang mengindikasikan perdarahan saluran cerna.
- Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
- Mengalami anemia tanpa penyebab yang jelas.
- Memiliki riwayat keluarga dengan kanker saluran cerna, khususnya kanker kolorektal.
- Berusia di atas 45–50 tahun sebagai bagian dari skrining kanker kolorektal.
- Mengalami perubahan kebiasaan buang air besar yang menetap.
Pencegahan dan Pentingnya Deteksi Dini
Endoskopi bukan hanya alat untuk mendiagnosis penyakit yang sudah menimbulkan gejala, tetapi juga merupakan metode skrining yang sangat efektif untuk menemukan kelainan sejak dini.
Kanker kolorektal, misalnya, sering berkembang dari polip yang tumbuh perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala apa pun.
- Lakukan skrining kolonoskopi mulai usia 45–50 tahun atau lebih awal jika memiliki faktor risiko.
- Jangan menunggu gejala semakin berat sebelum memeriksakan diri.
- Terapkan pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan serat.
- Batasi makanan tinggi lemak dan makanan olahan.
- Hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
- Ikuti jadwal kontrol yang direkomendasikan dokter apabila sebelumnya ditemukan polip atau kelainan lainnya.
Layanan Gastroenterologi di Bethsaida Hospital Serang
Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas dan bawah yang ditangani langsung oleh dokter konsultan gastroenterologi-hepatologi berpengalaman.
Didukung fasilitas modern dan teknologi endoskopi terkini, pasien dapat memperoleh pemeriksaan yang akurat, nyaman, dan komprehensif untuk berbagai gangguan saluran cerna.
— dr. Tirta Mulya Juandi
Direktur Bethsaida Hospital Serang
Konsultasikan kondisi Anda bersama dokter spesialis gastroenterologi di Bethsaida Hospital Serang. Pemeriksaan endoskopi dapat membantu menemukan penyebab secara lebih akurat sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Konsultasi di Bethsaida Hospital Serang